Selasa, 10 Juli 2012

sosiologi pendidikan islam



Makalah
Di ajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sosiologi Pendidikan
Oleh
Miftakhul Darussalam: D703211023
Ahmad Junaidi : D 03211009
Farid Mahrus : D73211097
fAKULTAS TARBIYAH JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
SURABAYA
2012
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Sosiologi Pendidikan
Sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Sosiologi berasal dari kata “socius” yang berarti kawan atau teman dan “logis” yang berarti ilmu. Secara harfiah sosiologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang perawanan atau pertemanan. Istilah sosiologi diperkenalkan pertama kali oleh August Comte (1798-1857) pada abad ke-19. istilah ini dipublikasikan elalui tulisannya yang berjudul “Cours de Philosphie Positive”[1].
Menurut Brinkerhof dan white sosiologi adalah interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antar 2 (dua) individu atau lebih. Hubungan timbal balik tersebut yaitu adanya kontak dan komunikasi. Dengan adanya kontak dan komunikasi, kita akan saling mendapatkan informasi.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat .
Sosiologi Pendidikan adalah adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis .
Pada abad ke-17 ilmu alam menjadi ilmu yang merdeka, pada abad ke-18 ilmu ekonomi, sedangkat ilmu msyarakat atau sosiologi baru dikenal sebagai ilmu sejak permulaan abad ke-19. Kebutuhan untuk memisahkan sosiologi dari ilmi-ilmu lainnya ini lebih tampak dan terasa pada masa revolusi abad ke-18 di Eropa yang mengganas dalam Revolusi Perancis (1789-1799). Sedangkan Inggris, berdasarkan perasaan akan kenyataan fungsi ilmu masyarakat telah lebih kurang 100 tahun lebih dulu mengalami perubahan sosial dan politik dalam revolusi yang tidak berdarah, lazim disebut “glorious revolution”[2].
Telah dimaklumi bersama, bahwa seluruh pendidikan manusia dapat berlangsung dalam Tri Pusat Pendidikan yaitu dirumah atau dalam keluarga, di sekolah atau lembaga pendidikan formal, dan di masyarakat atau pendidikan nonformal[3].
a)             Dirumah atau di dalam keluarga, anak berinteraksi dengan orang tua dan segenap anggota keluarga lainnya. Ia memperoleh pendidikan informal, berupa pembentukan pebmbiasaan-pembiasaan (habit formations). Seperti cara makan, tidur, bangun pagi, gosok gigi, sopan santun, dan lain-lain. Pendidikan informal dalam keluarga akan banyak membantu dalam meletakkan dasar pembentukan kepribadian anak. Misalnya, sikap religius, disiplin.
b)             Di sekolah anak berinteraksi dengan guru-guru beserta bahan-bahan pendidikan dan pengajaran, teman-teman serta pegawai-pegawai tata usaha. Ia memperoleh pendidikan formal disekolah berupa pembentukan nilai-nilai pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap bidang studi. Akibat bersosialisasi dengan pendidikan formal, terbentuklah kepribadiannya untuk tekun dan rajin belajar disertai keinginan meraih cita-cita.
c)             Di masyarakat anak berinteraksi dengan seluruh anggota masyarakat yang heterogen (macam-macam). Ia memperoleh pendidikan nonformal atau pendidikan diluar sekolah berupa berbagai pengalaman hidup. Agar masyarakat dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada generasi muda harus diwariskan nilai-nilai, sikap, pengetahuan, keterampilan.
Perkembangan manusia sering dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh para pendidik agar pandai-pandai memecahkan masalah pendidikan melalui analisis sosiologis[4].
a)        Aspek Biologis : Kondisi biologis seseorang turut mempengaruhi kepribadian seseorang. Misalnya seseorang memiliki cacat jasmani,seperti sumbing, buta dan lain-lain. Dengan demikian seorang pendidik yang bijaksana akan memperlakukan peserta didiknya dengan menggunakan strategi pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan.
b)        Aspek Psikologis : Di kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orang yang rendah diri bukan karena cacat jasmani, melainkan karena sosial ekonomi rendah sehingga orang yang pendiam atau tertutup enggan bergaul. Dalam kasus ini seorang pendidik perlu memperhatikan mereka secara analisis sosio-ekonomi.
c)         Lingkungan Alam Fisik : Seseorang yang berasal dari daerah gersang bisa memiliki kepribadian yang ulet, keras dan tabah atau bisa juga sebaliknya. Pendekatan yang dapat digunakan oleh pendidik yaitu sosio-geografi.
d)        Lingkungan sosial : Perkembangan kepribadian seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia berada. Misalnya seseorang berasal dari lingkungan keluarga yang baik-baik kemudian pindah dan bertempat tinggal dalam lingkungan kampung maksiat. Pendekatan yang dapat digunakan oleh pendidik yaitu dengan analisis sosio-religius.
e)         Faktor kebudayaan : Dipengaruhi oleh faktor materiil atau nonmateriil.
f)         Faktor kebudayaan khusus.
B.     Bapak Pendiri Sosiologi (The Founding Fathers Of Sosiology)
Pada bagian ini akan dijelaskan empat ahli yang sampai kini pikirannya masih dipakai dalam teori sosiologi, yaitu Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, dan Auguste Comte. Karl Marx dan Pandangan mereka telah memberi stimulan diskusi panjang tentang pelbagai persoalan terkait dgn kehidupan ekonomi, politik, dan kebudayaan. Pandangan mereka juga digunakan dalam disiplin ilmu social lain seperti ilmu politik, ekonomi, antropologi, dan sejarah.
1.        Emile Durkheim[5].
Durkheim dilahirkan di Epinal Prancis pada 1858 dari keluarga Yahudi, ayahnya Rabi. Studi di Ecole Superieuredi Paris. Dari 1887 sampai 1902 menjadi guru besar dalam ilmu-ilmu sosial di Bordeaux. Pada masa tersebut ia berhasil menulis buku yang monumental yaitu tentang  the division of labor in society, the Rules of Sosiological Method, dan suicide. Setelah itu, ia pindah ke Universitas Sorbonne di Paris. Pada masa itu, ia kembali menerbitkan buku the Elementary Froms of the Religious Life.berbeda dengan Karl Marx, sumbangan Emile Durkeim terhadap sosiologi pendidikan lebih terasa, terutama berbagai ceramahnya tentang pendidikan yang diterbitkan dalam beberapa buku seperti Education and Society(1956), Moral Education(1961), dan Evolution of Educational Thought(1977).
2.        Max Weber[6].
Weber dilahirkan di Erfurt 1864 sebagai anak tertua dari delapan orang bersaudara. Ayahnya seorang otoriter, sedangkan ibunya adalah seorang saleh yang teraniaya. Oleh karena itu, terjadi cekcok hebat antara Max Weber dengan ayahnya, sehingga dia mengusir ayahnya. Ia lebih banyak dipengaruhi paman dan tantenya.  Weber mengecap berbagai pendidikan, antara lain ekonomi, sejarah, hukum, filosofi, dan teoloi. Ia meraih gelar doktor dalam  studi organisasi dagang abad pertengahan. Ia diangkat jadi guru besar dalam studi sejarah afraria Romawi di Berlin serta menjadi guru besar ekonomi di Freiburg 1894 dan 1896di Heidelberg.
3.         Karl Marx[7].
Marx lahir dari keluarga Yahudi di Trier, Jerman, pada 1818. Ibunya berasal  dari keluarga Rabbi Yahudi, sedangkan ayahnya berpendidikan sekuler dan pengacara yang sukses. Ketika suasana politik tidak menguntungkan bagi pengacara Yahudi, ayah dan keluarganya pindah menjadi pemeluk agama protestan. 1841 Marx meraih gelar doktor  fildafat dari Universitas Berlin, Universitas yang dipengaruhi oleh pemikiran Hegel dan pengikutnya yang kritis. Ia menikah pada 1843 dan hijrah ke Paris. Di sana ia berkenalan dengan St. Simon dan Proudhon, tokoh pemikir sosialis, dengan Engels, mitra menulis sekaligus sahabat penopang ekonomi, serta dengan berbagai pemikiran ekonomi politik Inggris seperti Adam Smith dan David Ricardo. Aktif dalam berbagai gerakan buruh dan komunis. Karl Max dipahami oleh berbagai penulis teks buku sosiologi pendidikan  seperti  Ivor Morris(1972), K.W. Prichard, dan T.H. Buxton(1973), Philip Robinson(1986), dan Mareen T. Hallin(2000) tidak memberikan banyak sumbangan teoretis terhadap pengembangan sosiologi pendidikan, namun Marx sangat berpengaruh terhadap cara aberpikir tentang pendidikan dan masyarakat.
C.    Penguat Fondasi Sosiologi Pendidikan
Penguat Fondasi Sosiologi Pendidikan merupakan para tokoh teori sosiologi yang melakukan aktivitas ilmiah berupa revisi, mengembangkannya, dan mempertajam teori yang telah dikembangkan oleh peletak fondasi teori sosiologi seperti Marx, Durkheim, Weber, dan Mead.adapun tokoh penguat Fondasi adalh sebagai berikut :
1.      Alfred Schutz.
Alfred lahir di Wina pada 13 April 1889 Ia mengikuti kuliah di universitas Wina dibidang ilmu hukum, ekonomi, dan sosiologi (1918-1921) selama di Wina dia juga menghadiri kuliahan Max Weber. Setelah meraih doktor dia bekerja sebagai sekretaris di sebuah Bank di Wina, kemudian pindah bekerja sebagai penasihat hukum pada sebuah Bank swasta pada tahun 1939 migrasi ke Amerika baru pada tahun 1943 menjadi akademisi dan meninggal dunia pada 20 mei 1959.
2.      Piere Bourdieu.
Piere Bourdieu  dilahirkan di kota kecil selatan Perancis pada 1930. Dia diterima di the Ecole Normale Superieure pada 1950an, namun tidak menulis tesis masternya karena ketidak setujuan terhadap nstruktur sekolah yang otoriter. Dia aktif menentang orientasi komunis dari sekolahnya. Pengalaman wajib militer selama dua tahun di Aljazair pada 1958-1960 mendorongnya untuk menulis buku. Setelah itu, dia kembali ke Paris dan mengajar sebagai asisten Raymond Aron. Ketika kedudukan pemimpin College de France lowong karena Raymond Aron memasuki pensiun pada 1981, Bourdieu menggantikannya. Semenjak itu, dia memegang peranan kunci dalam sosiologi Perancis.
3.      Talcott Parsons.
Talcot Persons lahir pada 13 desember 1902 di Colorado Springs, Colorado, Amerika serikat dari seorang anak pendeta yang iontelektual. Ia menamatkan sarjana mudanya dalam bidang dtudi biologi di Kolese Amherst (1920-1924). Kemudian dia mengikuti program Pasca Sarjana di London School of Economics pada tahun 1924. Selanjutnya, dia pergi ke Heidelberg, Jerman, tempat  ia memulai Tesis doktoralnya, sehingga dia berkenalan dengan berbagai karya ilmuan sosial jerman seperti  Karl Marx , Max Weber, Sombart.
D.      Pemikiran Tokoh-TokohSosiologi Pendidikan
a)   Alfred Schutz (1889-1959)
Dalam pandangan Alfred Schutz Max Weber tidak serius  mengembangkan apa yang dimaksud tentang verstehen (interpreative understanding ) atau disebut dengan pemahaman interpretative dan teori makna. “Weber tidak membedakan antara action yang dianggap sebagai sesuatu yang masih sedang berlangsung dan acts yang sudah selesai antara makna penghasil suatu benda cultural dan makna benda yang doihasilkan, antara makna tindakan (action) saya dan amakna tion\dakan orang lain . “ jadi kata schutz mengembangkan teori makana tanpa mendislkusikan bagaimana makna ini sendiri muncul, dipertahankan, dikemnbangkan dan di ubah. Topik ini dikembangkan oleh Schutz sehingga pemikirannya dianggap sebagai fenomenologi , yaitu studi tentang cara bagaimana fenomena hal-hal yang kitya sadari muncul kepada kita, dan cara yang paling mendasar dari permunculannya adalah sebagai suatu aliran pengalaman  indriawi (streams of experience ) yang berkesinambungan yang kita terima melalui panca indra kita.
b)  Antonio Gramsci.
Gramci dipandang sebagai seorang intelektual yang dipengaruhi pemikiran Marx.Pemikiran Gramsci yang paling banyak dikutip oleh para ilmuan sosial dan humaniora adalah konsep hegemoni. Menurut Roiobinshon (1986 : 46) \hegemoni dapat dipahami sebagai “pengaruh yang memimpin”. Robinshon menulis hegemoni sebagai satu keseluruhan himpunan kebiasaan dan harapan, penggunaan energi kita, pemahaman kita, yang biasa mengenai kodrat manusia dan dunianya. Ia merupaansatu perangkat makna dan nilai yang sebagaimana terjadi dalam praktek, tanmpak sebagai saling memperkuat .
Pendidikan dilihat memiliki peran yang strategis dalam mengabsahkan hegemoni yang domoinan. Ia mensosialisasikan kaum muda bukan hanya fakta-fakta dunia tetapi juga tentang sikap terhadap fakta ini. Kaum intelektual dapat memainkan peranan pentingh untuk mempertahankan status quo yang ada, termasuk hegemoni kebudayaan dominan. Namun sebaliknya juga kaum intelektual dapat pula membangun suatu budaya kebudayaan kontra hegemoni yang melaluinya kebudayaan dominan dapat dilawan.
c)   Talcott Parsons (1902-1972)
Ada empat persyaratan fungsional yang dibutuhkan oleh suatu sistem, yaitu
1.      Adaptation, merupakan suatu kebutuhan sistem untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapinya. Sistem mampu menjamin apa yang dibutuhkan dari lingkugannya serta mendistribusikan sumber-sumber ini kedalam seluruh sistem.
2.      Goal attainment, atau pencapaian tujuan, merupakan prasyarat fungsional yang menetukan tujuan dan skala prioritas dari tujuan yang ada. Setiap orang bertindak selalu diarahkan oleh suatu pencapaian tujuan.
3.      Integration/ integrasi, suatu kebutuhan sistem yang dapat mengordinasikan dan menciptakan kesesuaian antar bagian atau anggota dalam suatu sistem. Fungsi Integrasi dapat terpenuhi apabila bagian atau anggota dalam suatu sistem     berperan sesuai dengan fungsinya  dalam satu keseluruhan.
4.      Latent Pattern Maintenance / Pola pemeliharaan laten, prasyarat fungsional yang dibutuhkan sistem untuk menjamin kesinambungan tindakan dalam sistem sesuai dengan beberapa aturan atau norma. Konsep laten menunjuk pada sesuatu yang tersembunyi  atau tidak kelihatan.
d)  Louis Althusser (1918-1990)
     Pemikiran Althusser dipengaruhi oleh cara pandang Marx, namun cara pandang yang direvisi oleh Althusser sendiri. Tujuan Althusser yaitu mengukuhkan Marxisme  sebagai sebuah ilmu pengetahuan dan melepaskannya dari determinisme Ekonomi.
Untuk memahami inti dari pemikiran Althusser, ada baiknya dikutip pernyataan Strinati (2003 : 169-170) :
“Masyarakat harus dipertimbangkan dalam hal relasi antarstruktur daripada suatu esensi beserta ekspresinya. Basis ekonomi atau cara produksi, dan superstrtuktur atau politik dan ideologi, melahirkan strukture terkait satu sama lain secara lain secara pasti. Superstruktur politik dan ideologi bukan semata-mata merupakan ekspresi esensi basis ekonomi pada contoh akhir basis ekonomi jadi penentu dikarenakan dampaknya terhadap struktur lain maupun dinamika masyarakat secara keseluruhan. Namun hal ini tidak mencegah superstruktur untuk menjadi “relatif mandiri “ dari pengaruh tersendiri terhadap basis ini maupun terhadap kecepatan serta arah perubahan sosial. Dalam dunia nyata, determinisme ekonomi tidak pernah dalam bentuk murninya sehingga keberadaannya sukar untuk diputuskan dan dijabarkan dari berbagai pengaruh lainnya.”[8]
Althusser menurut Robinshon (1986 : 47) memandang negara sebagai sebuah mesin penindasan, yang memungkinkan kelas-kelasnya berkuasa...menjamin dominasi mereka atas kelas buruh.  Sumbangan terbesar dari Bourdieu terhadap sosiologi pendidikan  adalah idenya tentang kapital yang dihubungkan dengan pendidikan. Bourdieu melihat bahwa terdapat hubungan antara pendidikan  dan tentang kapital budaya dan simbolik. Kedua kapital ini direproduksi dan dilanjutkan melalui sekolah. Hal ini akan dibahas lebih detail pada Bab Pendidikan sebagai kapital.
e.Karl Marx
Ø  Pendekatan Materialisme Historis
Ada empat sentral konsep penting dalam mmahami pendekatan materialisme historis (Morisson,1995). Pertama, Means of Production, Kedua, Realition of Prodduction (hubungan Produksi), ketiga mode of production, ke empat (force of production).
Perubahan cara produksi itulah yang menyebabkan adanya perubahan sosial budaya dan dimensi pendidikan. Perubahan cara produksi tersebut terletak pada teknologi baru, penemuan sumber-sumber baru, atau perkembangan baru lain apapun dalam bidang kegiatan produktif (Johnson, 1986 : 132 ).
Karena cara produksi berubah, maka muncul kontradiksi antara cara produksi dan hubungan produksi. Ketika kontradiksi telah merusak parah keseimbangan, maka ia akan berdampak pada perubahan terhadap hubungan produksi seperti perubahan pada pembagian kerja, dasar dan bentuk struktur kelas. Pada gilirannya dapat mengubah mode produksi.
Ø  Teori Alienasi (keterasingan)
Kapitalisme telah menyebabkan manusia mengalami alienasi karena hasil kreativitas produsen menjadi terasing/ diasingkan dari produsen itu sendiri. Alienasi ini bisa berupa : (1) produk diluar kontrol dari produsen seperti jenis, kualitas, kuantitas, harga, dan pemasaran produk (2) produsen harus menyesuaikan diri dengannya seperti mengikuti kapasitas produsen mesin. Oleh karena itu, menurut McLellan (1973 :111), manusia mengalami alienasi dalam tiga arti. Pertama : manusia teralienasi dari produk kerjanya sendiri dalam arti bahwa ia hanya sekadar embel-embel dari proses produksi, sebagai pelayan mesin atau orang yang memindahkan kertas di kantor. Kedua, manusia juga teralienasi dari dirinya sendiri dalam arti bahwa ia bekerja karena terpaksa, dan sebagai akibatnya manusia diubah menjadi hewan” karena ia hanya merasa senang apabila melakukan fungsi-fungsi hewani, yakni makan, minum, dan memiliki anak-anak.” Terakhir manusia teralienasi dari sesamanya. Hubungan yang ada di tempat kerja mempengaruhi hubungan dalam kehidupan di luar kerja.
Ø  Teori Perubahan Sosial
Pada The Communist Manifesto, Marx menyatakan “sejarah dari semua masyarakat hingga saat ini adalah sejarah perjuangan kelas.” Perjuangan kelas berakar dari adanya pembagian kerja dan pemilikan pribadi. Keberadaan pembagian kerja dan pemilikan pribadi menghasilkan kontradiksi yang dalam dan luas pada masyarakat, yaitu antara kelompok yang tidak memiliki serta menciptakan stratifikasi sosial dalam masyarakat yaitu kelas pemilik dan kelas bukan pemilik.
Ø  Tentang Agama
Menurut Marx “agama sebagai candu masyarakat”. Pernyataan ini dapat dipahami karena Marx melihat bahwa superstruktur sosio-budaya, termasuk di dalamnya ideologi politik, dan agama dibangun atas infrastruktur ekonomi (yaitu, alat-alat produksi dan hubungan sosial, termasuk agama didirikan atas dasar infrastruktur ekonomi (yaitu : alat-alat produksi dan hubungan sosial dalam produksi) dan menyesuaikan diri dengan tuntutan dan persyaratan yang dimiliki oleh infrastruktur ekonomi ini. Pengalaman ayahnya yang berpindah agama dan ekonomi.
f.       Emile Durkheim.
Ketika ia menyjadi direktur ilmu pendidikan di Sorbon, Paris (yang kemudian menjadi dirkektur ilmu pendidikan dan sosiologi pada tahun 1913). Memandang pendidikan sebagai suatu “social thing”. Masyarakat secara keseluruhan beserta masing-masing lingkungan sosial didalamnya merupakan sumber penentu cita-cita yang dilaksanakan lembaga pendidikan.
Menurut Duurkheim pendidikan itu bukanlah hanya suatu bentuk tetapi bermacam-macam baik dalam arti ideal maupun aktualnya. Oleh karenba itu pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadaran diri dan kesadaran sosial ( The individual self and the social self, the I and the we or the homoduplex) menjadi suatu paduan yang stabil, disiplin, dan utuh secara bermakna.
Durkheim pada waktu menyampaikan kuliah pengukuhannya di Sorbon (1920), menyatakan bahwa dunia pendidikan harus melakukan perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian seirama dengan arus deras transformasi yang berlangsung pada masyarakat modern dan dia menyimpulkan bahwa tidak ada yang melebihi pentingnya pendekatan sosiologi bagi para guru.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat.Istilah sosiologi diperkenalkan pertama kali oleh August Comte (1798-1857) pada abad ke-19.Perkembangan manusia sering dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh para pendidik agar pandai-pandai memecahkan masalah pendidikan melalui analisis sosiologis.
Sosiologiu pendidikan muncul dari pemikiran para tokoh-tokoh sosiologis, yang dapat diklasifikasi tokoh peletak dan tokoh penguat fondasi sosiologi pendidikan. Mereka itu adalah Karl Marx(1818-1883), Emile Durkheim (1858-1917), Max Weber,George Herbert Mead (1863-1931), Alfred Schutz (1889-1959), Antonio Gramsci (1891-1937),Talcott Parsons (1902-1972), Louis Althusser (1918-1990).
B.     Saran
Dengan di susunya makalah ini kita bisa mengerti dan tahu tentang  sosiologi dalam pendidikan,agar kita biasa mengetahui dan memahami tentang ilmu sosiologi,agar tidak ketinggalan,karena di zaman modern ini kita bias menggunakan sosiologi sebagi alat untuk interaksi pembelajaran dari individu satu dengan yang lainya,jadi dengan kita belajar sosoilogi kita bisa mengetahui perubahan social.
DAFTAR PUSTAKA
Ø  Budiman, Arief, dkk. 1986. Mencari Konsep Manusia Indonesia Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Erlangga.
Ø  Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Ø  Lawang. Robert M. Z. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia.
Ø  Mof, Yahya. 1997. Hasil Analisis terhadap Teori Konflik (Karl Marx). Makalah.
Yogyakarta: Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Program Pascasarjana IKIP Yogyakarta.
Ø  Munib, Achmad. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK Unnes.
Vaizey, John. 1987. Pendidikan Dunia Modern. Jakarta: Binaprinindo Aksara.
Wuradji. 1988. Sosiologi Pendidikan Sebuah Pendekatan Sosio-Antropologi. Jakarta: Depdikbud.


[1]file:///E:/SOS%20pend/Ciri,%20Tujuan%20dan%20Sejarah%20Sosiologi%20Pendidikan%20_%20unsilster.htm
[2] Shadily, Hasan. Sosiologi untuk masyarakat Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta (1993)
[3] Drs. Gunawan, Ary H. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta 2010 (hal. 57)
[4] Ibid (hal 59)
[5] Ibid.,h.28-32.
[6] Ibid.,h.41-49
[7] Ibid, h.23-28.
[8] Ibid.,h.48.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar